images

Puskesmas, sarana kesehatan yang memadai kah?

Puskesmas mungkin tempat yang menjadi satu-satunya pilihan untuk berobat bagi sebagian masyarakat menengah ke bawah. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya di artikel kemarin, saya sudah sebulan ini sakit dan aga insomnia sebenernya. Dan pada akhirnya, saya datang ke puskesmas agar bisa bertahan sampai besok di bandung. Lalu ketika datang ke puskesmas, subhanalloh sekali ternyata banyak yang sakit. Antrian pun cukup banyak. Padahal ini masih jam setengah delapan.

Pasien yang datang ke puskesmas ini beragam. Dari usia 0 tahun sampai yg tergolong dewasa akhir pun ada. Ada yang datang bergerombol, ada pula yang sendiri seperti saya. Ada pasien yang datang jalan kaki, ada juga yang menggunakan motor. Tapi tentu tak ada yang datang menggunakan mobil, karena tentu orang yang mempunyai mobil biasanya mampu berobat ke dokter.

Setiap pasien yang datang ke puskesmas harus daftar antrian terlebih dahulu. Bagi yang belum pernah daftar sebagai pasien, harus membayar Rp 4000, setelah itu baru diberi kartu antri sementara. Saya pernah ke puskesmas ini dan memiliki kartu pasien, tapi itu sudah lama dan tidak tahu dimana rimbanya. Jadi otomatis saya daftar lagi. Dan jika saya tak salah, memang setiap tahun itu setiap pasien harus daftar lagi. Petugas pendaftaran akan bertanya mau kemana tujuan pasien. Apa pasien mau ke bagian umum, poli gigi atau apa ya satu lagi saya lupa. Baru mendapat kartu antrian.

Setelah mendaftar dan mendapat nomor antrian, saya pun bergabung dengan pasien lain, mengantri di ruang tunggu yang berada di depan ruang periksa. Ruang tunggu ini tetap sempit meski sebenarnya lebih leluasa dari sebelumnya. Terakhir saya datang ke puskesmas ini, ruang tunggu antrian untuk pemeriksaan dan ruang tunggu antrian untuk mendapat obat itu disatukan. Hari ini sudah berbeda. Ruang tunggu untuk mendapat obat ada di bagian lain bangunan dan bisa dicapai dengan keluar ruangan terlebih dahulu.

Di ruang tunggu, saya duduk di dekat kulkas kecil yang menjual minuman untuk kesehatan pencernaan. Saya melihat2 ke sekeliling. Terdapat beberapa poster yang mengkampanyekan beberapa gaya hidup sehat sembari mempromosikan produk biskuitnya. Dalam hati ini saya bertanya, apa semua ini diperbolehkan? Apa produk mereka benar2 sehat?

Setelah tinggal tersisa beberapa pasien di ruang tunggu, saya pun dipanggil. Saya diperiksa oleh seorang dokter perempuan yang muda dan cantik, mengenakan pakaian hitam. Dia bertanya tentang sakit yang saya rasa, mendengarkan pemaparan saya, lalu bertanya ke rekannya apakah ada alat yang dia maksud untuk memeriksa dahak saya. Karena alat tersebut tidak ada, dia memeriksa tensi darah saya. setelah itu, dia meminta saya untuk kontrol dan memberi resep untuk ditukar dengan obat. Hanya itu pelayanannya, tidak lebih dari 5 menit.

Resep saya taruh di kotak resep di ruang tunggu obat, sambil menulis artikel ini saya pun menunggu. Beberapa saat kemudian, saya pun dipanggil. Didapat lah tiga macam obat yang harus saya minum sebelum makan. Pesan dokter, jika terjadi alergi segera hentikan konsumsi obatnya dan datang lagi ke sana.

Itulah pengalaman saya di puskesmas hari ini. Memadai atau pun tidak pelayanannya, puskesmas ini tetap laris manis. Selain karena harganya mahasiswa banget, puskesmas ini pun tidak memungut biaya lain selain uang pendaftaran tadi dan obatnya pun gratis. Andaikan rumah sakit dan poliklinik juga bisa gratis. Andai..

Wallohualam..
Semoga puskesmas bisa tetap eksis memberikan pelayanan kesehatan terbaik untuk masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *