PSYCHASTENIA, DEFINISI DAN SIMPTOM

PSYCHASTENIA, DEFINISI DAN SIMPTOM

Psychastenia, definisi dan simptom yang biasa menandainya akan dibahas disini. Psychastenia, definisi dan simptom diuraikan secara singkat sebagai salah satu dasar pengetahuan calon konselo tentang kesehatan mental.

A.    DEFINISI

Psychastenia merupakan tipe psikoneurosa yang ditandai oleh reaksi-reaksi kecemasan, dibarengi kompulsi, obsesi, dan ketegangan-ketegangan fobik (akibat fobia). Ada kecenderungan sangat kuat untuk berfikir – merasa – berbuat sesuatu; tetapi pada saat yang sama dirasakan sebagai hal yang sia-sia, tidak berguna, tolol atau irrasional, enggan berbuat. Ada kelemahan mental, sehingga meredusir segenap energi psikisnya.

B.     SIMPTOM-SIMPTOM PSYCHASTENIA
1.      Simptom Phobia

Simptom-simptom phobia (fobia) ini sering membarengi psychostenia.  Phobia didefinisikan oleh psikopatolog sebagai penolakan yang mengganggu atau kecemasan yang luar biasa yang diperantarai oleh rasa takut secara terus menerus dan irasional, terhadap bahaya yang dikandung oleh objek atau situasi tertentu dan diakui oleh si penderita sebagai sesuatu yang tidak berdasar (yang bagi orang lain dipandang tidak berbahaya). Penderita biasanya menghindari keadaan-keadaan yang bisa memicu terjadinya kecemasan atau menjalaninya dengan penuh tekanan.  Penderita menyadari bahwa kecemasan yang timbul adalah berlebihan dan karena itu mereka sadar bahwa mereka memiliki masalah. Rasa takut yang dialami oleh penderita fobia akan hilang secara otomatis dengan cara menghindari objek yang ditakutinya.

Phobia secara Etiologi

Psikoanalisa
Menurut Freud, phobia merupakan pertahanan terhadap kecemasan yang disebabkan oleh impuls-impuls id yang ditekan. Kecemasan ini dialihkan dari impuls id yang ditakuti dan dipindahkan ke suatu objek atau situasi yang memiliki hubungan simbolik dengannya.

Behavioral
Penjelasan utama behavioral mengenai phobia adalah avoidance conditioning. Avoidance conditioning ini diformulasikan sebagai gabungan dari classical conditioning dan operant conditioning. Individu mempelajari bahwa sesuatu hal menakutkan karena hasil pairing stimulus netral dan dan stimulus terkondisi, lalu ia mempelajari bahwa ia dapat mengurangi rasa takut dengan menghindar dari stimulus terkondisi tersebut. Respon tersebut dipertahankan karena terbukti dapat mengurangi ketakutan atau kecemasan.

Kognitif
Sudut pandang kognitif terhadap kecemasan secara umum dan phobia secara khusus berfokus pada bagaimana proses berpikir manusia dapat berperan sebagai diathesis dan pada bagaimana pikiran dapat membuat phobia menetap. Kecemasan dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk menanggapi stimuli negatif, menginterpretasi informasi yang tidak jelas sebagai informasi yang mengancam, dan mempercayai bahwa kejadian negatif memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi di masa mendatang.

Biologis
Pendekatan biologis berpendapat bahwa orang yang memiliki phobia memiliki suatu malfungsi biologis yang dapat memicu terjadinya phobia tersebut setelah terjadinya kejadian yang penuh stres. Beberapa penelitian mengenai hubungan phobia dengan sistem biologis seseorang adalah penelitian mengenai sistem saraf otonom dan faktor genetik.

Secara umum phobia dibagi dua yaitu phobia spesifik dan phobia sosial.

Phobia Spesifik
Phobia spesifik adalah suatu ketakutan yang tidak beralasan yang disebabkan oleh kehadiran atau antisipasi suatu objek atau situasi spesifik. Ada lima jenis phobia spesifik berdasarkan sumber ketakutannya, yaitu

(1) phobia terhadap binatang tertentu (kucing, anjing, ular),

(2) phobia terhadap keadaan alam (debu, ketinggian, hujan, petir),

(3) phobia terhadap situasi tertentu (berada di dalam elevator, pesawat),

(4) phobia terhadap darah, luka dan suntikan,

(5) phobia terhadap hal lain (kematian, penyakit, tercekik).

Phobia spesifik juga dipengaruhi oleh budaya seperti pa-leng (ketakutan terhadap dingin dan kehilangan panas tubuh) di Cina dan taijin kyoshu-fo (ketakutan akan mempermalukan seseorang) di Jepang.

Phobia sosial

Individu dengan phobia sosial mengalami ketakutan yang menetap dan tidak rasional yang biasanya berhubungan dengan keberadaan orang lain. Individu dengan phobia ini memiliki ketakutan bahwa mereka diperhatikan oleh orang lain dan mereka akan melakukan hal yang memalukan. Akibatnya, mereka akan menghindari situasi-situasi yang menurut mereka potensial untuk terjadinya hal-hal tersebut atau menghadapinya dengan penuh tekanan.
Keadaan-keadaan yang sering memicu terjadi kecemasan pada penderita fobia sosial adalah:

  • Berbicara atau tampil di depan umum
  • Makan di depan orang lain.
  • Menandatangani dokumen sebelum bersaksi.
  • Menggunakan kamar mandi umum.
  • Penderita merasa penampilan atau aksi mereka tidak tepat.

Mereka seringkali khawatir bahwa kecemasannya akan tampak, sehingga mereka berkeringat, pipinya kemerahan, muntah, gemetaran atau suaranya bergetar; jalan pikirannya terganggu atau tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan maksud mereka. Jenis fobia sosial yang lebih umum ditandai dengan kecemasan pada hampir seluruh situasi sosial. Penderita fobia sosial menyeluruh biasanya merasa bahwa penampilannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, mereka akan merasa terhina atau dipermalukan.

Beberapa orang memiliki rasa malu yang wajar dan menunjukkan malu–malu pada masa kanak-kanak yang di kemudian hari berkembang menjadi fobia sosial. Yang lainnya mengalami kecemasan dalam situasi sosial pertama kali pada masa pubertas. Fobia sosial sering menetap jika tidak diobati, sehingga penderita menghindari aktivitas yang sesungguhnya ingin mereka ikutI

SEBAB-SEBAB PSYCHASTENIA

secara umum, penyebab psikastenia adalah:

  1. Repressi dari pengalaman-pengalaman lama yang sangat menakutkan atau trauma.
  2. Pengalaman tersebut disertai perasaan malu dan rasa bersalah, yang kemudian ditekan ke dalam alam bawah sadar, dalam usahanya untuk melupakan insiden tersebut. Namun stimulus orisinal yang menimbulkan ketakutan dan rasa tidak mapan lainnya itu sering muncul melalui proses kondisioning. Dan mengakibatkan respons-respons ketakutan lagi, sungguhpun insiden semula sudah terlupakan dan sungguhpun sudah ada usaha-usaha dari penderita sendiri untuk menghilangkan respons ketakutan tersebut.
  3. Ada konflik-konflik antara keinginan untuk berbuat dengan berani dan rasa-rasa ketakutan-ketakutan untuk berbuat sesuatu yang ditekan atau repressed kuat-kuat.
  4. Simptom yang berwujud kelemahan mental dan tingkah laku lain-lainnya itu adalah substitusi dari keinginan-keinginan yang ditekan tersebut.

Treatment psikastenia secara umum yaitu dengan ditemukan sebab-sebab dari trauma; lalu diintregasikan kembali kompleks-kompleks emosional yang berantakan itu ke dalam kepribadian. Diberikan stimulus-stimulus dan motivasi-motivasi yang positif untuk mengadakan reintregasi dan adaptasi.

 

pada artikel berikutnya akan membahas tetang fobia sebagai simptom Psychastenia.

 

c

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *