IMG_0272

Petualangan di Balik Penantian

Berpetualang Menemukan Jalan Baru

Akhir-akhir ini suami saya sibuk sekali mengerjakan bisnis outdoornya. Biasanya saya tidak pernah diajak untuk survey lokasi, tetapi kali ini lain. Saya ikut menemaninya “pergi” survey, meskipun diturunkan di tempat “aman” di sekitar lokasi surveynya..hihi.. 🙂

Pada akhirnya, momen ini saya jadikan ajang jalan-jalan, disamping menemani suami tentunya. Kalau orang tua saya mengetahui hal ini, tentu akan diprotes karena saya jadi ikut motor-motoran terus dengan suami saya. Tapi ini benar-benar sangat menyenangkan. 🙂

Tujuan survey kali ini ada dua tempat. Pertama, suami saya memutuskan untuk pergi ke kebon kopi terlebih dahulu. Baru kemudian ke destinasi kedua yaitu jl. Sudirman di belakang rumah sakit dustira cimahi. Menurut hemat saya, lebih efektif ke dustira dulu via cihanjuang. Baru kemudian ke kebon kopi. Tapi suami saya berpikir lain. Dia menghabiskan waktu cukup lama untuk melototi peta google dan mempelajari jalan pintas yang disarankan.

Google Map penunjuk arah Ledeng-Kebon Kopi yang dipelototi suamiku

Google Map penunjuk arah Ledeng-Kebon Kopi yang dipelototi suamiku

Tak mau membuka perdebatan, suamiku sudah mantap untuk ikut apa kata mbah google. Akhirnya kita berangkat. Arah yang dilalui seperti menuju cihanjuang yang biasa kami lalui. Lalu dia berbelok ke jalan yang tidak pernah kami lalui sebelumnya. Berlawanan arah dengan jalan menuju arah cihanjuang. Dia bilang bahwa kami akan melalui jalan yang tidak pernah kami lalui.

Benar saja, jalan ini tidak pernah kami lalui dan itulah tujuan dia mengajak saya. Sebuah petualangan di jalan yang tak pernah kami lalui. Dia selalu senang mengajak saya untuk mencoba sesuatu yang baru, mencari jalan baru dan menghadapi ketakutan tertentu.

Jalan yang kami lalui lurus ke arah selatan. Jalanannya sepi, berada diantara dua komples perumahan, tepiannya ditutupi pagar beton kedua kompleks tersebut. Jalan ini sepertinya jalan yang terabaikan. Jalanannya rusak, membuatku sangat tersiksa karena guncangan ditambah kondisi haid hari pertama. Sesekali saya berdiri sambil memeluk badannya agar tidak jatuh. Di google map jalan ini disebut jalan budi luhur. Kami melewati terowongan jalan tol, ternyata jalan ini memotong tol pasteur menuju jalan cibeureum.

Jalan Layang Tak Dikenal

Tiba di jalan cibeureum, saya kaget sekali melihat dari jauh ada jalan layang. Saya kira kami ada di jalan layang surapati. Ternyata saya salah. Kami berada di jalan layang cibeureum. Saya tidak pernah tahu bahwa ada jalan layang lain di bandung selain surapati. “belum pernah ke sini kan? Seneng gak ayah bawa ke sini?” gombalnya padaku.

Tidak sulit mencari jalan kebon kopi. Kami bertanya ke beberapa orang untuk menuju kompleks yang kami tuju, dan akhirnya sampai juga di kompleks telkom kebon kopi. Nama jalan yang kami tuju sangat unik, pentaconta. Sepertinya semua jalan di kompleks ini menggunakan istilah berkaitan dengan telkom/telepon.

Penantian di Masjid dan Kondisi di bawah Flyover

Ketika sampai di jalan yang dituju, saya diturunkan dan menunggu di sebuah mesjid. Segan duduk di dalam mesjid. Selain karena sedang haid, juga karena ibu-ibu warga sekitar sepertinya sedang mengadakan pengajian rutin. Saya duduk di teras mesjid cantik ini seraya melanjutkan membaca novel sherlock homles yang kupinjam dari Eem. Beberapa ibu mengajak saya untuk masuk, tetapi saya hanya membalas senyum. Ramah sekali warga di sini.

IMG_0272

Masjid Kompleks Telkom Kebon Kopi

Habis beberapa lembar membaca, suami saya kembali. Belum sempat saya buka jajanan bekal saya agar tidak bosan menunggunya. Begitu saya duduk di motor, tanpa ragu dia menuju destinasi survey kedua.

Kali ini kami tak melewati jalan layang cibeureum seperti sebelumnya. Justru kami melewati jalanan di bawah jalan layang tersebut. Sedikit kecewa, tapi banyak hikmahnya. Saya bisa melihat kondisi di bawah jalan layang.

Ternyata jalanan ini padat sekali. Selain angkot yang ngetem, banyak penjual di sana sini, ada pasar, bahkan ada juga tukang jahit berjejeran di bawah jalan layang ini. Lain bumi langit dengan kondisi taman jomblo di bawah jalan layang surapati. Melihat kondisi tersebut saya merenung, inilah indonesia. Semrawut.

Jalan_Kebon_Kopi,_Cimahi_Selatan,_Cimahi,_Jawa_Barat_40535,_Indonesia_ke_Rumah_Dinas_Rumah_Sakit_Dustira_-_Google_Maps_-_2014-02-21_18.16.59

Jalan Pintas Kebon Kopi – Dustira

Tidak sampai ujung kami menyusuri jalan di bawah jalan layang, suamiku membelok ke jalanan kecil sebelum rel kereta. Kami meniti jalan di samping rel kereta. Sesekali kulihat warung-warung bakso yang menggoda setiap pelintas dengan memajang bakso besar di etalasenya. Saya sudah pasti tergoda, lalu kuajak suamiku mampir. Namun ia tak bergeming. Dilanjutkannya perjalanan kami menyisiri jalanan yang tak kami kenal ini. Menuju dustira. Good bye bakso gede-gede yang menggoda..

Penantian di Sudirman

Ternyata jalan yang kami lewati benar-benar jalan pintas. Beberapa kali bertanya arah kepada warga, kami berhasil mencapai jalan di daerah baros/kebon sari tempatku kkn dulu dan sudah sangat dekat dengan dustira. Seorang warga pengendara motor yang hendak menuju dustira dengan senang hati menunjukkan jalan pada kami. Sampai di dustira, kami bertanya pada petugas parkir dan penjual jajanan kemana arah jalan sudirman.

Kami susuri jalan yang ditunjukkan penjual jajanan buah tersebut. Saya mengamati sepanjang tepian jalan. Macet, padat, banyak penjual. Sekitar rumah sakit sangat padat penduduk dan perdagangan sepertinya sangat berkembang di sini. Banyak kontrakan di sekitar sini, tak heran karena ada semacam sekolah tinggi kesehatan di sini yang di bawahi universitas jendral ahmad yani kalau saya tidak salah ingat. Lagi-lagi saya menyimpulkan, dimana ada mahasiswa disitu perekonomian berkembang.

Tiba juga kami di jalan sudirman. Kami cek nomor setiap rumah yang kami lewati, lalu mataku tertangkap pada nomor rumah yang kami tuju. Setelah kuberitahu suamiku, kami kemudian mencari lokasi tepat untuk menurunkanku. Kulihat sebuah warung di pertigaan dimana seorang tukang batagor kuah memarkirkan rodanya, di sana lah saya minta diturunkan. Sempat ragu ternyata banyak bapak-bapak tukang ojek, tapi air liur saya sudah mengalir dengan hanya membaca kata “batagor kuah” di roda tersebut.

Pertigaan Sudirman-Pemandangan dari Tempatku Menunggu

Pertigaan Sudirman-Pemandangan dari Tempatku Menunggu

Jalanan tempatku menunggu sangat rimbun, di tepiannya banyak pohon besar. ukuran rumah di sepanjang jalan ini sepertinya sudah ditentukan, hampir mirip-mirip. mungkin rumah sekitar sini adalah rumah dinas tentara. warung yang saya tumpangi duduk ini juga dikerubungi tukang ojek. sepertinya di jalan ini tidak ada angkot yang melintas sehingga selama saya duduk di sini cukup banyak orang yang meminta jasa ojek.

IMG_0276

Novel Sherlock Homles Eem yang temani penantianku

Kembali menanti suamiku..di warung bersama para tukang ojek.. sambil menyantap batagor kuah dan membaca novel kesayanganku lagi. Lezaaat..pedaas.. Tak lupa ku beli air minum di warung tempatku duduk sebagai pernyataan terimakasih membolehkanku duduk lama di sana. Setibanya suamiku, kami langsung belanja ke store eiger dan pulang ke tempat ibu kami berada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *