Parungkuda-20130313-02005

Pengalaman Mengawas 13-03-2013 ruang 03

Pengalaman Mengawas 13-03-2013 Ruang 03

ini memang bukan kali pertama saya mengawas ujian. sebelumnya di sekolah tempat saya praktikum pun saya pernah mengawas ujian. di al kausar sendiri, saya pernah mengawas ujian try out kelas tiga. sayangya saya tidak mendokumentasikan pengalaman ngawas sayang yang pertama tersebut dalam sebuah tulisan. tapi sungguh, mengawas kali ini cukup membosankan karena sendirian. sempat tadi pagi saya tanyakan di whatapp arisan guru sma IC al kausar, apakah beneran ciyus nih ngawasnya sendirian? lalu ada guru yang menjawab “gak koq..berdua sama HP”. kontas saya langsung ngakak.

hari ini, tanggal 13 bulan 03 tahun 2013, saya membuat kenangan mengawas di ruang 03 kelas XII IPS. benar-benar lovely time and place. bisa terlihat bukan? banyak sekali angka tiganya! yup. saya memang suka angka tiga. kenapa? pajang sekali ceritanya. mau diceritakan disini? oh tidak.. mungkin diceritakan di artikel tersendiri saj nanti (kalau inget+ lagi rajin). pokoknya saya suka angka tiga.

sebelum mengawas, saya mengambil segala berkas yang diperlukan untuk ujian di ruang wakases. pada saat itu lah saya mendapatkan pesan untuk meminta salah seorang siswa di ruangan yang nanti saya awasi untuk datang ke ruang wakil kepala sekolah terlebih dahulu. alasanya, siswa tersebut tidak diperbolehkan mengikuti Ujian sekolah karena belum membayar PAM. apa itu bayar PAM? tanya saya dalam hati karena tak paham.

setelah dijelaskan saya baru ngeuh apa itu PAM. PAM tidak lain adalah pembinaan akhlak mulia. suatu komisi yang dibentuk sekolah untuk menegakkan tata tertib di sekolah. nah, koq bisa bayar? ternyata yang dimaksud sebagai bayar PAM itu adalah membayar hukuman/denda karena melanggar aturan sekolah. aturan yang berlaku di sekolah adalah setiap siswa yang melanggar dan terkena denda, diwajibkan untuk membayar denda tersebut sebelum US. sehingga siswa teresbut tidak dapat mengikuti US sebelum menunaikan tugasnya.

setelah menyelesaikan administrasi pengawas di ruang wakasek, saya pun berlenggang ke ruang 03 lalu membuka pintu ruang tersebut dengan kunci yang saya dapat. sebenarnya, kalau ditinjau dari segi setingan tempat dan fasilitas bangku dan kursi di setiap ruang kelasnya, peluang siswa untuk menlakukan kecurangan semakin sedikit. kursi di setiap ruangan kelas di al kausar hanya untuk satu siswa. bahkan kalau boleh berpendapat, kadang saya merasa kursi dan meja itu kurang besar untuk anak siswa kelas XII. sehingga memang pada pembelajaran biasanya juga siswa duduk sendiri di bangku. tidak hanya pada saat ujian saja seperti di sekolah negeri pada umumnya yang memiliki anak didik banyak di setiap kelasnya.

enaknya di al kausar, setiap kelas hanya berisi paling banyak 22 siswa. kodisi kelas seperti ini memberikan banyak benefit baik bagi siswa dan guru. termasuk meminimalissasi tingkat kecurangan saat ujian. tapi entahlah, terkadang justru kreatifitas siswa muncul lebih baik di saat sempit di kala ujian seperti ini.

saat membagikan soal dan lembar jawaban, saya menunaikan apa yang tadi diminta panitia di ruang wakasek. dengan berat hari saya mempersilakan siswa yang belum membayar PAM keluar dan menemui panitia US di wakasek. rasanya sulit untuk mengatakan hal ini pada anak itu. maafkan ibu, nak.. tapi kau harus tunaikan kewajibanmu dan bertanggungjawab atas pilihanmu. akhirnya anak tersebut keluar. sementara anak itu sudah keluat, kami memulai pelaksanaan ujian. saya minta ismu untuk memimpin doa. meski sebelumnya menolak karena merasa tidak mempu, ismu tetap memimpin doa, seadanya dan sebisanya.

anak-anak membaca doa sebelum belajar dengan dilafalkan, tidak dalam hati. lalu mengucapkan salam bersamaan dengan nada seperti yang saya lafalkan sewaktu SD. hal ini lumayan membuat pikiran saya melayang ke zaman SD dulu, nada salam yang sama tapi tetap dipakai disini. sedikit mozaik kehidupan saya terbuka. waktu SMA, saya terbiasa berdoa membaca ummul quran dalam hati, meski salam tetap diucapkan.

tak lama berselang, siswa yang diminta keluat sudah kembali ke ruangan. tapi saya perhatikan, ada keringat banyak di dahinya. pertanyaan menyeruak dalam kepala saya. apa yang terjadi padanya? mungkinkan dia mendapat hukuman fisik pengganti dendanya untuk mengikuti ujian kali ini? kalau ya, sungguh tega nya.. atau mungkin dia kembali ke asrama dan mengambil uangnya lalu membayarkannya ke PAM. ya, mudah-mudahan seperti itu. saya termasuk orang yang kurang setuju jika siswa tidak diperbolehkan masuk ujian, terlebih karena soal biaya seperti pengalaman saya saat sekolah dulu. hal itu akan membuat siswa yang sebelumnya sudah stress karena ujian jadi bertambah tingkat stress nya.

saya bingung harus berbuat apa selama mengawas untuk menghilangkan kebosanan. hanya saja saya sudah menyiapkan buku tipis “grand desain pengawalan implementasi kurikulum 2013” yang merupakan oleh-oleh dari seminar BK dua hari lalu. buku ini cukup menemani saya selama mengawas ujian kali ini. hanya saja mata dan pikiran saya tidak tertarik pada buku ini. saya lebih tertarik untuk memperhatikan perilaku siswa-siswa XII IPS tersayang di saat ujian.

sebelum menulis artikel ini, saya menunaikan janji saya terhadap Ismail mubarak yang biasa dipanggi “ismu” untuk mengunggah kartu SNMPTN miliknya. dari situlah saya berpikir, bagaimana kalau saya membuat rekapan teranyar pilihan PTN siswa. mulailah saya mengerjakan rekapan tersebut. baru saya kerjakan sampai ahmad rizky, saya menemukan keanehan dalam perilaku siswa (meski lupa apa yang terlihat) sehingga saya memutuskan untuk tidak meneruskan merekap pilihan siswa.

saya berpikir kembali kegiatan apa yang bisa mengurangi kebosanan saya tapi tetap membuat saya bisa mengawasi jalannya ujian di ruang ini. akhirnya, ide nyeleneh muncul. kenapa tidak saya abadikan saja momen mengawas ini dalam sebuah tulisan? jadilah sekarang saya mengetik cepat dengan sepuluh jari (banyak yang tidak percaya saya bisa melakukannya) tanpa melihat ke arah keyboard karena mata saya tertuju pada siswa. yah, meskipun sesekali saya melihat display laptop karena penasaran juga dengan apa yang saya tulis. jadi, mohon maaf jika tulisan saya agak menusuk mata anda karena banyak ketikan yang salah didalamnya. hehe.. (alasan).

sayang sekali ujian hampir selesai di ruang ini. dan saya pun harus mengakhiri tulisan yang penuh nostalgia ini. tanggal cantik hari ini, andai saya bisa gunakan untuk hari pernikahan saya. tapi andai tinggal andai. masih banyak pilihan kenangan manis saya dnegan siswa yang bisa saya ukir dalam tulisan ini.

tambahan sedikit. saat keluar dari ruangan, kunci ruangan sulit sekali berputar. saya menghabiskan waktu agak lama untuk mengunci ruangan. pada saat itulah, saya melihat ada beberapa satpam yang beredar di koridor. ada apa? pikir saya. setelah memasuki ruang wakasek, ketika saya melihat keluar, seseorang ditandu menuju ke tangga bawah. saya langsung mengejar. seorang siswa tumbang dalam ujian ini. lemas tak berdaya. mudah-mudahan dia baik-baik saja. dengan peristiwa ini, bertambah cerita pengalaman mengawas saya di tanggal cantik ini.

ngawas di ruang berikutnya? apa yang akan saya tulis? we will see.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *