Obsessive-Compulsive Disorder secara Etiologi

Obsessive-Compulsive Disorder secara Etiologi

 

Obsessive-Compulsive Disorder secara Etiologi dibahas oleh para ahli dari beberapa madzhab/aliran psikologi. beikut ini bagaimana pandangan beberapa paham psikologi tentang Obsessive-Compulsive Disorder secara Etiologi.

Obsessive-Compulsive Disorder secara Etiologi menurut pandangan Psikoanalisa

Baik obsesi maupun kompulsi merupakan hasil dari dorongan instink seksual atau agresi yang tidak dapat dikendalikan, sebagai akibat dari toilet training yang berlebihan. Simptom yang muncul pun merupakan hasil pertentangan antara id dan defense mechanism; kadangkala id berhasil mendominasi, dan kadang defense mechanism yang lebih memegang peranan.
Menurut alfred adler, obsessive-compulsive disorder merupakan suatu bentuk incompetence, di mana pada masa kanak-kanak peran orangtua sangat mendominasi individu. Sebagai akibatnya, ia akan mengembangkan inferiority complex dan secara tidak sadar melakukan ritual-ritual tertentu agar individu lebih dapat merasa dominan terhadap sesuatu.

Obsessive-Compulsive Disorder secara Etiologi menurut pandangan Cognitive-Behavioral

Menurut pendekatan behavioral, perilaku kompulsi dilakukan karena kemunculan perilaku tersebut terus diikuti dengan adanya penurunan kecemasan. Dengan demikian, semakin tidak jelas kapan hal-hal penyebab kecemasan itu muncul, maka perilaku kompulsi pun akan semakin sering dimunculkan oleh individu.

Sedangkan berdasarkan pendekatan cognitive, perilaku kompulsi dapat disebabkan oleh menurunnya ingatan individu. Ketidak-mampuan untuk mengingat apa saja yang sudah dilakukannya, atau kesulitan untuk membedakan antara perilaku yang benar-benar nyata dengan perilaku yang hanya muncul di dalam pikirannya (imagery) dapat membuat individu melakukan tindakan kompulsi. Berbeda dengan individu normal yang dapat berhenti memikirkan sesuatu jika ia memang menginginkannya, individu dengan obsessive-compulsive disorder tidak dapat menghentikan pikirannya sendiri dan sebagai akibatnya akan selalu merasa khawatir. Dan jika individu ini merasa lelah untuk terus memikirkan suatu hal, ia berusaha untuk menekannya (suppress) agar pikiran tersebut tidak lagi muncul di dalam kepalanya. Namun pada akhirnya, apa yang dilakukan tersebut justru membuat kecemasannya semakin meningkat.

Obsessive-Compulsive Disorder secara Etiologi dikaji berdasarkan kajian Biologis

Gangguan pada otak, luka pada kepala, dan tumor otak merupakan hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya obsessive-compulsive disorder. Pt scan telah menunjukkan peningkatan aktivitas pada otak bagian depan, dan diduga sebagai penyebab kesulitan individu untuk menghentikan pikirannya mengenai sesuatu. Selain itu, obsessive-compulsive disorder memiliki faktor genetik, sehingga biasanya muncul pada penderita yang memiliki hubungan keluarga dengan penderita obsessive-compulsive disorder lainnya.

 

Obsessive-Compulsive Disorder secara Etiologi

Diagnosa Obsessive-Compulsive Disorder

 

  • Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan penuturan penderita mengenai perilakunya.
  • Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menyingkirkan penyebab fisik dan penilaian psikis dilakukan untuk menyingkirkan kelainan jiwa lainnya.
  • Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan wawancara berdasarkan kuosioner Skala Obsesif-Kompulsif Yale-Brown.

Terapi Obsessive-Compulsive Disorder

Psikoanalisa
seperti terapi yang dilakukan pada penderita phobia dan gad, terapi bagi penderita obsessive-compulsive disorder bertujuan untuk melawan apa yang memang ditakutinya. Namun karena pikiran obsesif dan perilaku kompulsi telah melindungi ego dari konflik yang berlangsung, maka sulit untuk menemukan target dari terapi yang akan diberikan. Dengan demikian, pendekatan psikoanalisa ini pun dianggap kurang tepat untuk mengatasi penderita obsessive-compulsive disorder.

Behavioral-Cognitive

Melalui pendekatan rational emotive behavior, penderita dilatih untuk mentolerir ketidak-pastian dan rasa cemas yang muncul akibat ketidak-mampuannya untuk memprediksi apa yang akan dihadapinya. Pendekatan ini akan menyadarkannya bahwa tidak ada hal di dunia ini yang selalu pasti dan bisa diprediksi. Selain itu, penderita akan dilatih untuk membuktikan bahwa ketakutan terhadap terjadinya sesuatu yang mengerikan.

Pendekatan behavioral yang lain dinamakan exposure and response prevention (ERP), di mana penderita dibanjiri (flooding) dengan situasi yang memungkinkannya memunculkan perilaku kompulsif dan mencegahnya melakukan ritual-ritual tertentu, seperti mencuci tangan. Diasumsikan bahwa ritual semacam itu telah memberikan penguatan (reinforcing) di mana melakukan ritual tersebut akan mengurangi rasa cemas, sehingga dengan mencegah penderita melakukan ritual semacam itu diharapkan bahwa kecemasan yang dialaminya pun akan hilang.

Biological

Obat-obatan yang meningkatkan serotonin, seperti SSRI dan beberapa jenis tricyclics, merupakan terapi biologis yang biasanya diberikan kepada penderita obsessive-compulsive disorder. Sekalipun dapat mengatasi rasa cemas, antidepressant yang diberikan tetap menimbulkan efek samping yang tidak menguntungkan, seperti nausea, insomnia, agitation, gangguan pada fungsi seksual, dan bahkan berpengaruh pada sistem jantung dan sirkulasi darah. Sementara, penghentian penggunaan obat juga tidak dimungkinkan, karena akan mengembalikan simptom-simptom obsessive-compulsive disorder yang dimiliki penderita. Sehingga, pengobatan medis memang jarang diberikan kepada penderita obsessive-compulsive disorder. Terapi ini memang menunjukkan kemajuan, namun penggunaan obat secara terus-menerus pada akhirnya akan mengancam hidup penderita.

 

Obsessive-Compulsive Disorder secara Etiologi dengan dibahas berdasarkan beberapa paham psikologi dapat memberikan pemahaman luas dan cukup komprehensif bagi calon konselor, meskipun begitu, perlu juga calon konselor untuk memahami Pengembangan Program BK Perkembangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *