Image071

Kontemplasi di Titik Nadir

Kontemplasi di Titik Nadir

saya tau dan menyadari, saya bukan pribadi yg dewasa, baik, sholehah atau hal2 ideal yg didambakan setiap orang. saya juga bisa dbilang sombong, sulit menerima perbedaan pendapat, keras kepala, dan sulit menerima kritik. saya bahkan manja, lelet, malas dan hal2 buruk lain ada pada diri saya. saya sadari semua itu harus dirubah dan saya harus mengupayakan diri saya menjadi pribadi yang baik yang membuat nyaman orang lain.

kemudian, apakah menjadi pribadi yg baik itu akan tercapai dengan duduk dan diam? tentu tidak, itu perlu diupayakan dan upaya ini lah yang diawali dengan proses perubahan pemahaman, proses pembelajaran dan semua proses ini tidak jauh dari yg namanya ilmu dan kebenaran.

lalu apa upaya saya? saya mengupayakan belajar dari apa yang saya baca..membaca dari apa yang saya indera.. memaknai hasil informasi melalui indera saya. terlepas dari apakah semua itu sudah teraktualisasikan dalam perilaku saya atau belum, saya tetap berusaha.

saya yg berpribadi childish dan berdosa ini berusaha mendapatkan lingkungan yg baik, ilmu yg baik, untuk menjadi pribadi yg baik. hampir smua ilmu itu baru bisa saya terima dan pahami dengan komunikasi yg baik, cara penyampaian yg santun, dan indahnya perilaku si pembicara. makanya bagi saya, seorang pembawa ilmu, yg mengantarkan dan memotivasi saya utnuk menjadi pribadi yg baik, baik itu menggunakan landasan agama, science, ataupun empiris, atau bahkan hanya karena penyampaiannya yang membuat saya nyaman dan mudah dimengerti, adalah orang yg istimewa bagi saya. seolah menjadi sebuah contoh ideal sederhana bagi saya untuk menjadi seperti apa diri saya.

usaha saya tentu tidak langsung membuahkan hasil, ada proses di sana. dalam proses yg jatuh bangun itu, tidak salah kan jika saya terus berupaya?

ketika saya merasakan emosi negatif, tentu saya ingin ada seseorang yg mendengarkan, menyemangati dan memberi solusi. sehingga saya menceritakan emosi negatif apa yg saya rasakan dan memiliki harapan ada perubahan emosi dari hanya sekedar menceritakan tersebut. jika memang ada yang salah dengan emosi negatif yang saya rasakan, tentu tidak masalah apabila seseorang meluruskan, dan bukan berarti hal yg salah itu menjadikan saya buruk secara keseluruhan.. tapi tentu tiap orang ingin diingatkan dengan cara yg baik, dengan tetap mengapresiasi setiap usaha dan kebaikannya. dan tidak setiap apa yang seseorang ungkapkan itu perlu solusi, bisa jadi yg diharapkan dan dibutuhkan itu hanya orang yg mendengarkan dan berkeinginan untuk mengerti. jika yang menyampaikan kebenaran adalah orang yg kita anggap penting, dekat secara psikologis dan dipercaya, tentu nasihat yg disampaikan dengan baik akan mudah diterima. tapi apabila kebenaran yg disampaikan itu kurang baik dalam penyampaiannya, meskipun itu benar, bisa jadi yg akan dterima itu bukan kebenarannya, tapi emosi ekstrem negatif yg akan dirasakan.

saya bisa belajar, tp saya bukanlah seorang malaikat yg ketika menerima ilmu dari tuhan, maka langsung melaksanakannya tanpa cacat. saya perlu proses dan yang paling penting dukungan dalam mempraktikkannya. dukungan tersebut yang paling terasa itu adalah dukungan yg datang dari kondisi lingkungan pribadi2 di sekeliling saya. sekedar tau belum cukup, perlu ada orang yg mau terus menyemangati, mengingatkan dan memotivasi kita untuk tetap konsisten di jalan kebaikan itu. dukungan ini tentu tidak harus selalu orang2 yg secara fisik berada di dekat saya, tapi juga dukungan dari orang2 yang luar biasa menurut saya di luar sana, yang tanpa mereka sadari, mereka telah memberikan dukungan kepada saya.

dengan upaya yg sebegitu itu saya masih buruk, lalu apa jadinya jika saya lepas satu persatu? apabila saya tinggalkan satu per satu sumber2 ilmu, hidayah dan dukungan2 itu, apakah pribadi saya menjadi baik seperti yang diharapkan orang?

betapa egois, childish, lebay, dan berdosanya diri saya. keegoisan saya bahkan tergambar dari tulisan ini yang terus-terusan menampilkan kata “saya” sebagai penulis dalam sudut pandang pertama. hanya ini yang sekarang saya bisa untuk menyampaikan pendapat dan perasaan saya. memang saya masih harus belajar dalam mengungkapkan perasaan dan pendapat ini ke dalam tulisan. tapi itu bukan berarti saya baru boleh menulis pemikiran saya ketika saya sudah ideal, bukan?

dengan hadirnya saya di Al Kausar, saya semakin ingin belajar. belajar untuk memantaskan diri bagi anak-anak luar biasa. belajar bagaimana cara membantu anak-anak tersebut. belajar mengupgrade diri agar bisa mengimbangi mereka.

sekarang saya mengerti, dengan menulis, maka emosi negatif akan terrelease. mungkin bukan pilihan buruk apabila saya merasakan emosi, negatif ataupun positif, menulis bisa lebih memberikan makna sekaligus mereframe ulang pemikiran dan perasaan saya. semoga saya bisa ikhlas memaafkan orang lain dan diri saya sendiri.

 

orang-orang yg mendukung saya untuk menjadi pribadi yg baik:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *