IMG_0150

I Call it “Gunung Nyungcung”

I Call it “Gunung Nyungcung

I Call it “Gunung Nyungcung” karena bentuknya nyungcung seperti kerucut atau limas atau piramida atau seperti aseupan sangu kalau dalam budaya sunda mah. mungkin sebenarnya lebih tepat disebut bukit, bukan gunung. karena ukurannya yang tidak memenuhi kriteria ukuran gunung menurut saya. meskipun kalau ceplas ceplos lebih enak manggil bukit itu gunung nyungcung karena sudah kebiasaan saya dari pertama memanggilnya begitu. ini dia bukit yang dimaksud… nyungcung kan?

IMG_0147

I Call it “Gunung Nyungcung“, saat Mudik Pantura Pertama Kali

Bukit ini berada di sumedang, sekitar perbatasan sumedang majalengka. Dari jalanan beberapa KM sebelum bukit ini, yang saya lupa nama jalannya, pokoknya jalanan itu tinggi diata bukit dan berkelok-kelok, gunung atau bukit yang satu ini terlihat seperti kerucut yang lucu dan berbeda. dia seperti gunung yang berada di buku dongeng rama sinta yang kubaca, yang berada tempat negeri antah berantah rahwana menculik sinta. dari jauh gunung ini seperti bedasa di atas awan. sangat indaaah diantara hamparan cakrawala dan permukaan datar lainnya.

Kali pertama melihat gunung ini adalah ketika saya mudik lebaran  pertama kali ke rumah suami saya di Losari Brebes. di perjalanan, saya melihat keanehan gunung ini dan ingin mampir ke rest area di sekitar sana. tapi suami saya ngotot tak mau beristirahat karena takut tersalip truk truk sebelumnya yang sudah dia salip susah payah. maka tempat satu ini selalu saya rindu untuk disinggahi diperjalanan. selain karena ada gunung yang anehnya, tapi karena suami saya juga susah untuk diajak berhenti dulu.

 

I Call it “Gunung Nyungcung”, Bukit Indah di Ujung Sungai

Saat arus balik lebaran 2013, baru sampai majalengka, suami saya sudah tidak kuat untuk meneruskan perjalanan. jadi saya memaksa untuk berhenti di rest area kafe sungai (saya kasih nama sendiri juga hehehe) sekitar gunung nyungcung. senang sekali rasanya bisa duduk di sekitar sungai, sambil menyeruput air kelapa muda. sementara suami saya memejamkan mata sesaat, saya memberanikan diri turun ke pesisir sungai, melalui jalanan turun yang banyak sampah kelapanya. syaang sekali, tempat seindah ini tetap berserakan sampah dari para penjual di rest area.

Suamiku Beristirahat sambil memandangi sungai

Suamiku Beristirahat sambil memandangi sungai

Dari tepi sungai ini, di ujung timur sungainya, gunung nyungcung terlihat jelas. lebih kecil dari yang saya pikirkan saat melihatnya dari jalan di permukaan tanah lebih tinggi. air sungai yang mengalir berkilauan terkena sinar matahari sore. benar-benar istirahat yang mengasyikan. di sebelah barat sungai, arah yang berlawanan dari gunung nyungcung saya lihat jembatan yang tak lain adalah jalan utama provinsi yang biasa saya lewati. dari jembatan itulah, sungai dan gunung ini terlihat menggiurkan untuk disinggahi. saya sempatkan mengabadikan bayangan saya di tepi sungai ini. ini dia fotonya 🙂 what a great experience, meski mungkin orang sekitar rest area memandang aneh pada diri saya yang asyik sendiri di tepi sungai.

IMG_0150

Bayanganku di tepi sungai

Gunung ini laksana gambar-gambar pemandangan di waktu masa SD ku dulu. ada gunung, ada sunga, ada jalan. lalu matahari muncul di timurnya. bukankah seperti itu gambar kita dulu ketika SD? hehehe.. yang tergolong keluaran 90-an pasti tahu maksud gambar yang saya sebutkan..

Rest area yang saya singgahi lumayan lengkap fasilitasnya, meski tradisional. tapi pemandangan menarik yang tersajikan di sini sungguh tak kalah dengan rest area mewah yang disediakan pertamina. boleh dijadikan alternatif tempat singgah melepas lelah saat di perjalanan.

Perjalanan bersama suamiku selalu menyenangkan 🙂 meski dalam kesederhanaan 🙂  tak perlu sempurna untuk bahagia. banyak hal yang bisa dilihat sisi positifnya dan membuat kita bahagia. dunia ini memang bukan tujuan hidup, tapi Alloh tak melarang kita untuk mensyukurinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *