Category Archives: Landasan Pendidikan

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Onderwijs_op_Java_TMnr_10000809

Analisis Historis Pendidikan dari Masa ke Masa

Analisis Historis Pendidikan dari Masa ke Masa

Manusia dalam kehidupannya pasti akan selalu berhubungan dengan pendidikan. Selain karena pendidikan merupakan fitrah bagi manusia, pendidikan juga bertujuan untuk mewujudkan manusia ideal yang berkualitas baik jasmani maupun rohaninya. Dari pernyataan itulah, muncul pertanyaan bagaimana caranya agar kualitas manusia yang sudah terbentuk oleh pendidikan dapat diukur atau diketahui kadarnya? Berakar dari permasalahan inilah, manusia secara tidak sadar sudah membuat awal dari suatu penilaian terhadap hasil pendidikan. Sejak manusia melakukan usaha mendidik, pastilah mereka sudah melakukan hasil penilaian juga, meski dengan cara yang paling sederhana sekalipun. Lalu, seperti apakah penilaian – penilaian manusia terhadap hasil pendidikan? Adakah perbedaan mendasar antara penilaian pendidikan di berbagai masa? Sebenarnya apa hal yang mendasari adanya penilaian terhadap hasil pendidikan tersebut?

 

  1. A.    Pemecahan Masalah

Pendidikan adalah usaha manusia untuk dengan penuh tanggung jawab membimbing manusia lain ke kedewasaan. Sebagai suatu usaha yang memiliki suatu cita-cita atau tujuan tertentu sudah sewajarnya bila secara implisit telah mengandung masalah penilaian terhadap hasil masalah tersebut. Sebab tentunya setiap orang perlu mengetahui sampai sejauh mana tujuan tersebut sudah terwujud.

Banyak macam-macam penilaian yang dilakukan oleh manusia. Ada yang dengan jalan testing, ada yang dengan cara menyuruh membuat tugas atau karya tertentu, ada yang dengan menanyakan berbagai macam hal dan ada juga yang memberikan ujian dalam bentuk tertulis seperti yang lumrah dilakukan di sekkolah-sekolah atau lembaga formal lainnya. Berdasarkan hasil penilaian yang pada hakikatnya merupakan suatu ujian itu, si penilai berusaha menentukan sampai sejauh mana sudah maju sampai tujuannya dan dari hasil penilaian inilah si penilai juga menentukan apakah peserta didik yang dia nilai sudah cukup memenuhi syarat-syarat tertentu untuk digolongkan ke dalam kategori tertentu.

Di dalam masyarakat primitif juga kita dapat ambil contoh penilaian. Misalnya, sebelum seorang pemuda dianggap dewasa, terlebih dahulu dia harus menunjukan keterampilan atau keahlian tertentu. Di dalam cerita wayang kita dapatkan pula contoh penilaian itu. Dalam suatu lakon, kita sering melihat seorang bambang dari gunung turun ke kota mencari ayahya. Sebelum diakui sebagai anak, biasanya bambang tersebut dinilai dulu, yaitu diperintah mengerjakan suatu tugas tertentu misalnya.

Contoh paling kuno yang menjalankan hasil penilaian pendidikan itu secara teratur kita dapatkan di Tiongkok. Dalam sejarah diceritakan bahwa Tiongkok kuno mula-mula terpecah-pecah menjadi kerajaan kecil, tetapi sejak dinasti Han (kira-kira 220 SM-221M) berkuasa, terciptalah kekuasaan yang kuat. Pemerintahan ini mengharuskan calon-calon pegawainya memenuhi syarat-syarat tertentu, terutama dalam bidang kesusilaan.

Pada zaman pengganti kaisar Wen Ti, pendapat untuk mengangkat pegawai-pegawai berdasarkan atas jasa dan kecakapan, dijadikan prinsip. Pada tahun 77 M, peraturan tentang adanya ujian (penilaian) secara teratut ditetapkan dalam peraturan. Peraturan ini berlaku terus sampai dihapuskan pada tahun 1905. Dengan cara menguji calon pegawai ini, maka Tiongkok dapat menjamin bahwa pegawainya selalu terdiri dari manusia-manusia yang berkualitas tinggi.

Cara penilaian dengan semacam ujian yang berlaku di Tiongkok itu ternyata berpengaruh di Inggris. Pada tahun 1853 satu laporan menghendaki cara pemilihan calon pegawai dengan ujian itu dijukan kepada DPR. Prinsip yang ada di Tiongkok diambil, yaitu ujian-ujian diadakan secara teratur dan terbuka bagi semua orang dan pengangkatan didasari atas kecakapan. Apa yang terjadi di Inggris itu juga besar pengaruhnya terhadap Amerika Serikat dan Perancis. Di Perancis juga ada semacam Examen d’agregation yang tidak jauh beda dengan prinsip penilaian di Tiongkok.

Di Indonesia pada zaman Hindu Budha penilaian dilakukan untuk menentukan apakah seseorang layak untuk dimasukan dalam kasta yang lebih tinggi. Penilaian tersebut biasanya dilakukan dengan metoda wawancara. Sedangkan pada zaman pendidikan islam, penilaian dilakukan untuk melihat sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap apa yang sudah dipelajari dengan penilaian yang tidak jauh berbeda seperti penilaian di Tiongkok. Pada masa Kolonial, penilaian pendidikan juga dipegaruhi oleh penilaian di Inggris yang juga mengadaptasi dari Tiongkok.

Setelah merdeka, di Indonesia juga sudah terlihat berbagai macam penilaian. Tidak hanya peniaian untuk menguji calon pegawai saja, tetapi juga penilaian bagi calon mahasiswa misalnya. Sudah lebih dari tiga puluh tahun penilaian terhadap calon mahasiswa dilakukan oleh pemerintah, yang disebut Sipenmaru, UMPTN, dan sekarang SPMB. Tidak hanya dari pemerintah, pihak perguruan tinggi itu sendiri juga menyelenggarakan ujian atau seleksi lain dalam menerima mahasiswa baru. Ini merupakan bentuk-bentuk penilaian yang secara nyata sudah sangat mengakar di masyarakat pendidikan.

Selain perguruan tinggi, beberapa sekolah baik dari tingkat TK sampai tingkat SLTA juga mengadakan seleksi untuk menilai apakah calon peserta didik memenuhi standar untuk jadi peserta didik di sekolah mereka. Semua itu bertujuan untuk memilih bibit unggul untuk dididik agar hasil yang didapat pun memuaskan.

Tak ubah seperti saat seleksi masuknya, peserta didik yang akan keluar atau lulus dari suatu pendidikan juga hahrus diuji terlebih dahulu. Untuk SD sampai SLTA, pemerintah menyelenggarakan Ujian Nasional dengan standar kelulusan yang sudah ditetapkan. Meskipun menimbulkan kontroversi bekepanjangan, ujian nasional tersebut tetap dilaksanakan setiap tahunnya guna meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

Selanjutnya, di dalam sistem persekolahan Indonesia ada  Rapor yang menjadi perumusan terakhir dari penilaian hasil-hasil pendidikan. Hasil tindakan penilaian tersebut dinyatakan dalam suatu pendapat yang perumusannya bermacam-macam. Ada yang menggolongkan dengan menggunakan lambing huruf, ada juga yang menggunakan skala angka. Selanjutnya pada tiap akhir semester, sekolah mengeluarkan rapor tersebut yang berisi tentang kelakuan, kerajinan dan kepandaian murid-muridnya.

Adapun alasan atau dasar mengapa manusia melakukan penilaian terhadap hasil pendidikan menurut Suryabrata (2004 : 297) menggolongkan dalam beberapa kelompok, yaitu:

  1. Dasar Psikologis

Dalam setiap usaha manusia pada umumnya selalu diperlukan penilaian terhadap usaha-usaha yang telah dilakukannya, yang berguna sebagai bahan orientasi untuk menghadapi usahanya yang lebih jauh.

  • Dipandang dari segi anak didik

Hasil penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukan bahwa anak terutama remaja yang notabene belum mandiri, membutuhkan pendapat dari orang lain yang lebih dewasa dalam menentukan sikap dan tingkah lakunya serta dalam mengadakan orientasi dalam situasi tertentu. Dengan adanya pendapat guru yang dinyatakan sebagai penilaian mengenai belajar dan hasil-hasilnya, maka anak merasa memiliki pegangan dan hidup dalam kepastian batin. Di samping itu, secara psikologis anak juga perlu tahu statusnya diantara teman-temannya. Apakah ia termasuk golongan yang pandai atau tidak.

  • Dipandang dari segi pendidik

Secara psikologis, pendidik juga perlu mengetahui bagaimana hasil pendidikan anak yang dididiknya karena anak itu merupakan tangggung jawabnya. Selain itu, dengan mengetahuinya, pendidik juga bisa mengetahui hasil usahanya dalam mendidik.

  1. Dasar Didaktis
  • Dipandang dari segi anak didik

1)      Pengetahuan atas kemajuan yang sudah dicapai umumnya akan berpengaruh baik pada pekerjaan selanjutnya.

2)      Murid dapat mengetahui kelebihan dan kekurangannya, serta menggunakannya sebagai acuan untuk lebih berprestasi.

  • Dipandang dari segi guru

1)      Penilaian membantu guru dalam menilai readiness anak tehadap suatu mata pelajaran.

2)      Guru dapat mengetahui status anak dalam kelasnya.

3)      Membantu guru dalm menempatkan murid dalam suatu kelompok pelajar tertentu.

4)      Membantu dalam memperbaiki metode mengajar.

  1. Dasar administratif

Dengan adanya penilaian dalam wujud akhir rapor itu, maka dapat dipenuhi berbagai kebutuhan administrasi, yaitu:

  • Memberikan data untuk menentukan statu anak. Misalnya dia lulus atau tidak.
  • Memberi ikhtisar mengenai hasil usaha sebuah lembaga pendidikan.
  • Merupakan inti laporan tentang kemajuan murid kepada orang tua.

 

Analisis Historis Pendidikan dari Masa ke Masa-pendidikan SD

 Kesimpulan

Pendidikan di Indonesia diawali sejak agama Hindu/Budha masuk sampai saat ini terus berkembang dan mengalami perubahan sistem dengan tujuan peningkatan mutu pendidikan. Pada zaman Hindu/Budha sebagian besar pendidikan hanya diperuntukkan golongan tertentu seperti Brahmana dan Ksatria. Pendidikan di masa itu juga masih cenderung mengarah ke ilmu-ilmu agama. Beberapa sarana sudah tersedia sperti pura, padepokan dan pertapaan yang menunjang ke3giatan pendidikan.

Di masa Islam, pendidikan formal mulai merambah meskipun masih berorientasi khusus mempelajari ilmu agama.

Berbeda dengan masa sebelumnya, di zaman penjajahan pendidikan hanya bertujuan untuk mencetak sumber tenaga/pekerja yang akan dipekerjakan di pemerintahan penjajah. Tapi para bangsawan dapat mengikuti pendidikan yang diselenggarakan penjajah. Dari para bangsawan itulah tergagas oleh mereka untuk mendirikan sekolah swasta bagi masyarakat Indonesia.

Pasca Indonesia merdeka, sekolah mulai banyak berdiri. Pendidikan mulai lengkap tingkatannya dan pesertanya pun sudah boleh dari berbagai kalangan. Pemerintah saat itu memberika status sekolah negeri pad sekolah yang ada. Berbagai program peningkatan pendidikan mulai direncanakan dan dijalankan secara bertahap, seperti penghapusan buta huruf, mendatangkan guru asing dan penggabungan pendidikan tinggi.

Selain itu demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia, banyak mahasiswa/pelajar yang beralih menjadi tentara. Setelah situasi berangsur aman, para mahasiswa kembali menjalankan tugasnya untuk belajar.

Pada masa demokrasi liberal dan terpimpin, sistem pendidikan di berbagai daerah diperbaiki dan mulai disempurnakan. Landasan hukum pendidikan saat itu juga mulai jelas serta sudah banyak memuat ketentuan penyelenggaraan pendidikan. Beberapa sekolah yang memiliki karakteristik hampir mirip dilebur, tapi ada juga yang hanya diganti nama lama belajrnya saja. Peningkatan pendidikan juga secara ektual dibuktikan dengan banyaknya kursus bagi masyarakat awam.

Kemudian, beberapa organisasi didirikan oleh masyarakat untuk mengawasi jalannya pendidikan dan pemerintah saat ini gencar mendirikan perguruan tinggi di berbagai daerah yang dikhususkan mencetak tenaga pengajar.

Lain halnya dengan masa sebelumnya, di masa orde baru terjadi banyak perubahan kurikulum dn sistem pendidikan. Di masa ini pendidikan pancasila sangat ditekankan guna melahirkan generasi yang berlandas pancasila. Pemerataan pendidikan sampai ke pelosok Indonesia mulai terlaksana dan sarana di berbagai daerah mulai dilengkapi.

Penilaian terhadap hasil pendidikan sudah dilakukan sejak zaman primitif meskipun manusia itu sendiri tidak sadar bahwa dia sudah melakukannya. Kebanyakan sistem penilaian seperti ujian mengadaptasi dari prinsip Tiongkok dan juga sama bertujuan untuk mengetahui kadar keberhasilan usaha pendidikan dalam mencapai tujuan. Hal yang mendasari atau yang menjadi alasan mengapa perlu adanya penilaian terbagi tiga kelompok. Pertama, dasar psikologis yaitu secara psikologis manusia atau perserta didik  perlu mengetahui sampai mana dia sudah berusaha mencapai tujuannya guna meningkatkan lagi usahanya tersebut, kedua, dasar didaktis yaitu bahwa manusia atau peserta didik perlu mengetahui kemajuannya karena hal tersebut akan berpengaruh pada kelanjutan masa depannya. Terakhir adalah dasar Adsministratif, yaitu penilaian tersebut berfungsi untuk memenuhi keperluan administrasi.