NgeBolang

citarum dari jembatan rajamandala

Morning Rider: a Journey from Sukabumi to Bandung

Sukabumi di Pagi Hari

Pagi ini, Rabu 16 April 2014, merupakan pagi yang kutempuh dengan perjalanan sukabumi bandung. Kemaren sore suamiku harus survey lokasi ke sukabumi. Jadi saya pun harus menemaninya sekalian pulang ke rumah orang tua tercinta.

Meskipun bangun sebelum subuh, tetap saja berangkat dari rumah itu pukul setengah enam. Rasanya saya masih merasa saat itu masih terlalu pagi untuk bepergian. Tetapi ternyata saya salah besar, dan itu menimbulkan sedikit penyesalan pada diri saya.

Setelah berpamitan, kami pun lekas melaju menuju bandung. Pemandangan sukabumi pagi, saat matahari menyibak gelapnya langit tanah kelahiranku, jalanan utama provinsi masih sepi. Ternyata yang membuat macet kota ini bukan hanya karena truk-truk besar yang melintas, melainkan memang karena populasi kota ini melebihi kapasitas jalan yang tersedia. Buktinya jalanan sepi, ketika waktu belum menunjukkan saatnya pergi kerja, sekolah atau aktivitas penduduk lainnya.

Macet Pabrik Garmen

Lewat dari sukaraja, barulah kami berhadapan dengan truk-truk besar. Angkutan kota maupun mobil pribadi yang terlihat masih jarang, hanya pengendara motor seperti kami yang sepertinya cukup banyak tertangkap mataku.

Pengendara motor pagi ini kebanyakan membonceng wanita yang bekerja sebagai buruh di pabrik-pabrik garment. Bisa kutebak mereka sebagai buruh karena para wanita yang dibonceng ini tidak mengenakan helm di jalur provinsi. Budaya yang biasanya terlihat di kalangan buruh kawasan kabupaten.

Sepanjang jalan sukaraja-sukalarang, saya melihat pemandangan barisan bukit memanjang di sebelah timur atau sebelah kanan arah laju motor kami. Barisan bukit-bukit itu meliuk panjang, sebagiannya tertutupi awan, seperti tubuh naga yg sedang terbaring di atas awan. Subhanalloh, sungguh indah negeriku. Rasanya seperti berada di atas awan.

Tak lama, sampailah kami di kerumunan kendaraan. Awalnya kami melambat, menyalip beberapa truk dan kendaraan lain, lalu terpaksa berhenti karena berhadapan dengan kemacetan. Jadi inilah macet yang disebabkan para buruh pabrik garmen di kab. Sukabumi.

para pengendara motor mengambil lajur kanan, sebagian buruh jalan kaki, macet total

para pengendara motor mengambil lajur kanan, sebagian buruh jalan kaki, macet total

Budaya Kolektif Pengendara Motor Baik Buruh ataupun Non-Buruh

Ingin mempercepat diri, suamiku mengambil lajur kanan, berjamaah kompak sekali dengan pengendara motor lainnya meski tanpa komando. Seluruh lajur kanan dikuasi pengendara motor lajur kiri. Kendaraan di lajur ini tak bisa maju sama sekali.

Seorang polisi berjalan ke arah kami dan marah-marah kepada kami semua karena lajur kanan penuh oleh pengendara motor. Wajah polisi itu rasanya familiar sekali. Tetapi data di otakku tak berhasil mengeluarkan sebuah nama, unidentified.

Bisa kupahami kenapa polisi tersebut marah. Para pengendara motor memang sering tidak tahu aturan dan egois dalam menggunakan, termasuk suami saya. Kejadian macet akibat para pengendara motor mengambil lajur kanan sering sekali terjadi di depan pintu masuk semua pabrik di sukabumi. Bukan hanya pengendara di salah satu lajur saja yang mengambil lainnya, pengendara di lawan arahnya pun sama perilakunya, sehingga macet total tak terperi lagi.

Macet Total di Pagi Hari: Lumrah di Sukabumi

Kejadian seperti ini sudah tak aneh lagi bagiku, mengingat perjalanan menuju al kausar pun seperti ini adanya. Malah pabrik sepanjang jalan menuju al kausar justru lebih banyak, sehingga titik kemacetan pun lebih banyak dari yang kami lalui pagi ini.

Satu hal yang membuatku sedikit menyesal di tengah kemacetan seperti itu adalah kenapa hal sepenting ini saya bisa lupa memperhitungkan. Seharusnya, jika kami bisa berangkat setengah jam lebih awal, kami tak akan terjebak dalam kemacetan para buruh ini. Peristiwa ini mengembalikan ingatanku pada kemacetan-kemacetan yang kulalui menuju al kausar.

Penyebab Macet: Buruh Masuk Gerbang

Susah payah kami melewati kemacetan ini. Ruwet dan sumpeknya tak terkira dan entah bagaimana harus kuceritakan. Suamiku mengambil jalur kiri lagi dengan mengangkat tali pembatas jalan, “mengolongi” tali tersebut sedikit demi sedikit. Setelah kami berhasil lewat dari jeratan tali pembatas lajur itu, seorang satpam membentak pengendara motor lain yang hendak mengolongi tali itu juga. Untunglah kami sudah melewatinya..hihi.. Si satpam ini malah menyuruh tali diinjak atau diturunkan saja, padahal menurutku justru itu hal yang tidak mungkin dilakukan ditengah macet dua lajur ini.

Lajur kiri yang diambil oleh suamiku, semakin ke kiri, di samping selokan kecil. Beberapa kali kami kesulitan melaju di jalan tanah ini. Sebuah angkutan kota pun terjebak tak bisa maju akibat perbedaan ketinggian permukaan tanah yang dipijaknya. “Maafkan kami angkot, kami tak bisa membantumu di tengah macet seperti ini”, kataku dalam hati.

Mengambil arus paling kiri cukup mempercepat kami dalam melewati gerbang tempat masuk buruh beserta motor yang ditumpangi. ternyata inilah sumber semua kesemrawutan macet yang terjadi. Sebuah jalan kurang lebih tiga atau empat meter di kiri kami, tak lain jalan masuk buruh yang disediakan pabrik.

Jalan masuk ini satu arah menuju ke dalam pabrik, dan ternyata dua puluh meter ke depan kami, ada jalan satu arah keluar dari pabrik tadi. Dari jalan tersebut bapak-bapak pengendara motor keluar, tanpa wanita boncengannya yang sudah mereka turunkan di pabrik untuk bekerja. Lalu pada sore hari, mereka pun akan datang lagi menjemput boncengannya,dan terjadilah kemacetan lagi seperti pagi ini di sore hari. Setiap hari. Setiap pagi dan sore. Berulang terus. Tak ada perbaikan.

Naga Tidur di Jalur Selatan Cianjur

Berhasil melewati semrawutnya kemacetan tersebut, rasanya seperti berhasil mengambil napas setelah terlalu lama menyelam. Rasanya supeeeer lega banget. Kami lanjutkan meniti jalan menuju bandung dengan suka cita. Kupandangi terus gunung gede pangrango di samping kiri kami. Gunung yang selalu kurindu.

Akhirnya sampai juga saya dipersimpangan jalan warungkondang yang menuju pasir hayam. dari kemarin saya terus meminta suamiku untuk mengambil jalan baru, tapi tak dikabulkannya. Apakah kali ini dia mengabulkan? Ternyata iya! Dia berbelok ke kanan, dan menuju pasir hayam! Horeeeee!!!

tak lama setelah pasir hayam, jalan baru pun berada di hamparan pandangan kami. Cianjur selatan dan utara, gunung gede, arah bandung, barisan bukit jonggol dan purwakarta, semua terlihat. Gegap gempita kami menikmati pemandangan jalan ini. Kuhirup udara segarnya, kupandangi dalam-dalam cakrawala yang terhampar, ku intip langit di atas yang menaunginya, oh indahnya negeriku.

Lembah Besar Citarum: Lokasi Rumah Impian

Sayangnya keindahan nan asri ini hanya sementara. Kami harus meninggalkan jalan indah ini dan kembali ke jalan indah lain yang cukup banyak hiruk pikuknya. Cukup lama kami dalam kondisi biasa saja, setelah itu kembali terpukau oleh indahnya “lembah besar” dari atas jembatan raksasa, yaitu sungai citarum dan pemandangannya yang mengingatkanku pada lembah besar di film-film kartun dinosaurus.

citarum dari jembatan rajamandala

citarum dilihat dari jembatan rajamandala

jembatan rajamandala dari citarum

jembatan rajamandala dilihat dari citarum

Saya pun kembali berkhayal tentang memiliki rumah di lembah besar seperti ini. Rumah yang dilengkapi dengan helipad di pekarangannya, sehingga tentu helikopter lah yang menjadi alat transportasi utama kami dari rumah di pedalaman, menuju kota besar. Lalu pikirku, helikopter tersebut akan kami parkirkan di salah satu hotel bandung yang memiliki helipad. “Pikirku dalam hati, ayah akan bilang ‘Ngayal kamu!’.. Benar kan ay?” Tanyaku setelah kupaparkan hayalanku padanya. “Mahal tau bayar parkir helikopternya” kata suamiku.

Pesisir Situ Ciburuy

Setelah melewati liukan cipatat, kuminta suamiku berhenti sejenak di situ ciburuy untuk menelpon klien yang hendak dia survey. Barangkali klien tersebut berhalangan, jadi kita bisa meneruskan. Jika klien ada di tempat, kita bisa ambil jalan pintas melalui pesisir situ ciburuy. Ditelponnya sang klien, dan ternyata ada di tempat. Sehingga kami pun harus melaju ke sana. Kupinta suamiku untuk bertanya pada pedagang, benarkah jika belok kiri bisa sampai ke cikamuning. Pedagang tersebut mengarahkan menuju jalan yang sama seperti pikirku. Lalu kami pun melewatinya, pesisir situ ciburuy.

Tampak depan, situ ciburuy ini kehilangan daya tariknya. Kurang asri, dan banyak sampah. Tetapi pemandangan yang terlihat dari jalan dipesisirnya sangat lain. Subhanalloh indahnya pulau di tengah situ ini. Pemandangan hijau yang disuguhkan juga tak kalah indahnya. Angin berhembus menyibakkan air situ sehingga mereka meliuk bersama. Berusangkali “huwooow” terucap dari bibirku. Diiringi sambutan riang suamiku karena senang melihatku bahagia. kami susuri jalan ini, sampai persimpangan ujung.

situ ciburuy dari pesisirnya

situ ciburuy dari pesisirnya

Cikamuning dan Gunung Putri

Di persimpangan, kami bertanya pada seorang ibu tentang jalan menuju cikamuning. Jalan yang kami lalui sudah benar, lalu kami lanjutkan perjalanan. Saya sudah pernah melalui jalan pintas ini dengan a iya, tapi lupa jika harus dilewati dari arah yang berlainan.

Beberapa meter ke depan dari persimpangan, seperti yang kupaparkan berhari-hari sebelumnya, jalan pintas ini adalah hutan dan gunung terjal yang sepi. Permukaan jalannya pun rusak, tak ada penerang selain matahari. Namun semua kekurangan tersebut tertutupi jauh oleh indahnya pemandangan gunung dan hamparan sawah yang tersajikan. Luaaaar biasa indahnya ciptaan Alloh.

IMG-20140416-00402

IMG-20140416-00400

IMG-20140416-00401

Keluar dari jalan pintas ini, kami langsung tiba di jalan tol keluar cikamuning. Setelah bertanya ke pak ogah tentang rumah yang kami tuju, kami pun melaju ke sana. Setelah sampai, suamiku bingung hendak memintaku menunggu dimana. Akhirnya akupun jalan kaki menuju depan jalan pintas tadi. Di sebrang jalan pintas tersebut ada sebuah mesjid. Di mesjid itulah saya berlindung dari sepinya menunggu dalam kesendirian sementara suami survey.

IMG-20140416-00403

Mesjid tampak luar

IMG-20140416-00404

mesjid tampak dalam

 

IMG-20140416-00405

bagian mesjid temapatku duduk menunggu dan menulis artikel. sawah terhampar dibalik jendela

IMG-20140416-00406

nama mesjid ini. ternyata dibangun dari dana sumbangan salah satu BUMN