Author Archives: te2n karina

Budaya dan Kesehatan Fisik

Budaya dan Kesehatan Fisik

Budaya dan Kesehatan Fisik

Selalu ada kaitan erat antara budaya dan kesehatan fisik. Kesehatan dalam kebudayaan Amerika diidentikkan dengan gaya hidup, dahulu mereka mengira bahwa gaya hidup dapat menyebabkan arah negatif pada kesehatan masyarakat tetapi sekarang mereka menyadari bahwa gaya hidup merupakan salah satu faktor pendukung akan kesehatan masyarakat itu sendiri.

Sedangkan dalam kebudayaan Yunani dan Cina, kesehatan diidentikan dengan kesinergian antara kekuatan diri, alam, dan faktor lainnya. Jika ketiga unsur tersebut seimbang, maka akan terjadi kesehatan yang diharapkan.

Hippocrates menyatakan bahwa pengaruh pandangan terhadap tubuh manusia dan penyakit di banyak negara industri dewasa ini, memberi kesan bahwa tubuh manusia dipengaruhi oleh empat unsur cairan yang ada dalam tubuh manusia: darah, plegma, empedu hitam, dan getah kuning. Jika ke empat unsur cairan tersebut tidak seimbang maka seseorang akan terserang penyakit.

MacLachlan menyatakan bahwa tubuh manusia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu unsur panas dan dingin. Jika kondisi tubuh sedang panas ataupun dingin maka harus diberi asupan yang sebaliknya.
Sebagai contoh; dalam kebudayaan barat, ternyata sangat memandang tinggi bentuk tubuh yang ideal, seperti tubuh yang kurus. Sedangkan pada masyarakat Kenya keturunan Asia tidaklah demikian, mereka justru sangat menjunjung tinggi orang-orang yang bertubuh gemuk.

Berbagai negara menunjukkan pandangannya sendiri terkait budaya dan kesehatan fisik, seperti yang telah diuraikan di atas.

Budaya dan Kesehatan Fisik: Faktor-faktor Psikososial yang Mempengaruhi Kesehatan dan Penyakit

Terdapat variabel-variabel yang menjadi bahasan budaya dan kesehatan fisik. Faktor-faktor psikososial terbukti relevan dengan kesehatan dan penyakit. berikut adalah faktor-faktor tersebut.

  1. Pengangguran dan kematian
  2. Sosial ekonomi. Menurut Adler dan rekannya, status sosial ekonomi berhubungan dengan kesehatan. Jika status sosial ekonomi seeorang tinggi maka orang itu dapat menikmati kesehatan dengan lebih baik, tetapi kalau status sosial ekonomi orang itu rendah maka tingkat kesehatannya pun buruk dan tidak mendapat pelayanan kesehatan yang memadai.
  3. Frustrasi
  4. Stress

Para peneliti melakukan penelitian kepada hampir 7000 orang dengan tujuan untuk menemukan tingkat sosial mereka, penelitian yang dilakukan selama 9 tahun ini mendapat hasil akhir dengan jumlah objek menjadi 4725 (2275 orang dikeluarkan dari penelitian) yaitu bahwa individu yang tingkat/tali sosialnya kecil mendapat tingkat kematian yang tinggi dan individu yang tingkat/tali sosialnya tinggi mempunyai tingkat kematian yang rendah. Penelitian ini valid karena ditinjau secara statistik dan secara metodologikal yang dikontrol.

Selain itu, terkait budaya dan kesehatan fisik,  faktor-faktor budaya yang mempengaruhi perkembangan penyakit jantung diantaranya adalah:

  1. Life style (gaya hidup)
  2. kehidupan sosial budaya
  3. dukungan sosial dan isolasi sosial. Maksudnya orang yang mendapat dukungan sosial tidak rentan terkena penyakit jantung dan orang yang terisolasi kehidupan sosialnya rentan terkena penyakit jantung.

Tak hanya budaya dan kesehatan fisik yang berkaitan, Kecerdasan anak pun turut dipengaruhi oleh budaya dan kesehatan fisik. Dan banyak sekali variabel lainnya yang perlu dipahami dalam melihat keterkaitan antara budaya dan kesehatan fisik.